Jumat, 25 Mei 2012

Sedikit Coretan Tentang Ayah (Bag.1)

Aku adalah anak ke 4 dari 5 bersaudara, ke empat saudara ku adalah perempuan sedangkan aku adalah laki-laki sendiri dikeluargaku, kisah ini ingin ku tulis sebagai tulisan pertama ku di blog ku ini.

Sekitar 12 tahun yang lalu ayah ku pergi menghadap yang Maha Kuasa, ingin sedikit kuceritakan pengalaman ku disaat beliau sakit hingga ajal menjemputnya. Setahun sebelum ayah ku menderita sakit,ayah ku bermimpi aneh ada seseorang menyerang dia didalam mimpinya dan di dalam mimpinya dia terluka. menurut ibuku ayah ku tidak menceritakan orang yang menyerang beliau didalam mimpinya,walaupun ibuku tau ayah ku mengetahui siapa yang menyerang beliau,tapi ayahku menyembunyikannya.

Saat ayahku terbangun dalam mimpi buruknya,beliau berkata pada ibuku bahwa dia telah kena, ibuku berkata pada ayahku 'terkena apa? ayahku hanya menjawab cukuplah aku yang tau.

Sebulan setelah mimpi itu,ayah ku bertandang ke rumah kakak ku yang paling tua,dia telah menikah dan mempunyai anak satu,niatnya ayahku ingin menginap bersama kakak ku yang paling tua dirumahnya,tapi kakak ku saat itu sedang keluar kota bersama suami dan anaknya,jadi saat itu ayah ku hanya tinggal di rumah kakak ku seorang diri. Saat tengah malam sekitar pukul sebelas malam, ayah ku yang menginap dirumah kakak ku mendadak sesak nafas,saat itu tidak ada seorangpun di rumah kakak ku. ayah ku keluar rumah dan berusaha meminta pertolong pada tetangga dirumah kakak ku yang kebetulan adalah seorang rukun tetangga (RT) sebutlah namaya pak Sodik, dengan susah payah menahan sesak nafas nya ayah ku berhasil ke rumah pak sodik dan meminta bantuan disana, pak sodik yang melihat ayah ku sulit bernafas,buru-buru beliau membawa ayah ku ke rumah sakit terdekat.

Pukul satu malam ibuku mendapat telepon dari pak sodik  mengabarkan ayah ku sedang dirawat dirumah sakit akibat sulit bernafas,menurut dokter ayah ku terkena Asma kronis. hal itu sangat mengagetkan ibuku,sepengetahuan ibuku selama lima puluh tahun beliau dan ayah ku berumah tangga tidak pernah ayahku tertimpa penyakit asma apalagi sampai kronis, hal itu yang membuat ibuku bertanya tanya pada saat itu.

Beberapa bulan di rawat di rumah sakit,bukannya sembuh malah penyakit ayahku bertambah banyak, dokter mengatakan bahwa ayah ku mempunyai penyakit lever dan maag kronis juga, jadilah ayahku berpenyakit komplikasi.

Saat ayahku sudah terlalu lama dirumah sakit beliau minta pulang, ayah ku berkata pada ibuku bahwa penyakit yang dideritanya sulit disembuhkan,bukan hanya karna penyakit medis tapi juga non medis. aku sendiri tidak paham maksud kata-kata yang diucapkan ayahku. akhirnya keluarga ku mengijinkan ayahku pulang dari rumah sakit.

Saat ayahku dirawat dirumah banyak hal-hal "unik" (aku tidak ingin mengatakan aneh) terjadi pada ayahku. hal yang sering aku dan keluargaku saksikan ialah saat tengah malam penyakit sesak nafasnya kambuh dan terkadang di mengigau dalam tidurnya,igauannya kadang beliau berkata kata seperti orang yang sedang menegur,kadang pula seperti orang ketakutan. ayahku ku pernah berkata dalam igauannya " kita sudah seperti saudara kenapa kau lakukan ini pada ku, kadang beliau mengatakan 'lepaskan semua yang kau buat ini atau kau akan bernasib sama dengan diriku.. kadang pula aku mendengar ayahku berkata dalam tidurnya 'aku tidak ada dendam denganmu... sering pula dengan nada ketakutan ayahku berkata 'Jangan bawa aku." 

Banyak hal yang membuat aku dan keluarga ku bertanya tanya dalam hal ini, ibuku yang masih memegang adat orang-orang terdahulu mencoba berinisiatif melakukan pengobatan non medis atau alternatif dengan memanggil "orang pintar" termasuk juga seorang kyai.

Dalam proses pengobatan non medis atau alternatif,banyak hal "unik" yang terjadi saat itu, dimana saat di obati oleh salah satu "orang pintar" sebutlah namanya pak "Z" beliau adalah guru spritual dari ketua DPC partai yang berkuasa di jaman Orde Baru, kebetulan ayah ku adalah pengurus teras partai tersebut. perut ayah ku saat di obati oleh pak "Z" membesar seperti orang hamil setelah di pegang oleh pak "Z" dengan dibacakan lafadz, perut itu normal kembali seperti semula. (aku tidak bisa menceritakan secara detil karna saat pengobatan aku sedang ada di kampus hanya keluarga ku yang menceritakannya padaku)

Lain halnya dengan pak "B" beliau adalah "orang pintar" yang berasal dari pulau sulawesi, saat beliau mengobati ayah ku dengan daun sirih, beliau mengatakan penyakit ayah ku awalnya disebabkan oleh "kiriman" (guna-guna atau teluh dsb) yang dilakukan oleh pesaing ayahku baik itu yang di lingkungan partai dan kantor tempat ayahku bekerja bahkan di lingkungan ku rumahku sendiri. pak "B" mengatakan bahwa ayahku ibarat pohon pisang yang dimakan Larva,bagian dalamnya sudah rusak bagian luarnya terlihat utuh,entah apa yang dimaksud dengan perkataan pak "B" tersebut,kita sekeluarga hanya disuruh berdoa saja oleh pak "B".

Setelah beberapa bulan pengobatan baik medis maupun non medis (alternatif) ayah ku sempat koma pada tengah malam,seluruh keluarga ku menangis dan bertahlil,saat itu aku masih tertidur dikamar. aku di bangunkan disuruh ibu ku membaca ayat suci al Quran, saat itu sempat bingung apa yang akan aku baca maklum aku bukan anak yang rajin mengikuti pengajian dan ceramah jadi aku tidak tau menghadapi situasi seperti ini dimana ayah ku sedang koma.

Saat keadaan bingung tersebut hati kecil ku mengatakan aku harus sholat hajat 2 rakaat disamping ayah ku. aku langsung mengambil wudhu dan sholat hajat tersebut,lantas dengan khusyu aku berdoa di antara tangisan       
dan tahlil yang dibaca keluarga ku, aku berdoa kepada-Nya " Ya Allah Ya Rahman Ya Rahim.. jangan Kau ambil dia (ayah ku) karna aku masih membutuhkannya.. jangan Kau panggil dia bila dosanya didunia belum kau hapuskan.. jangan pula Kau suruh dia menghadap Mu bila keluarganya belum mengikhlaskan.. Ya Allah tiada Tuhan selain diriMU dan Nabi Muhammad adalah utusanMU"

Itulah doa yang spontan aku ucapkan disaat itu,dengan izin dan ridhaNya akhirnya ayahku kembali dari koma. setelah kembali dari koma ayahku bercerita pada ku tentang pengalamannya saat koma.. mungkin akan aku tuliskan kembali di lain kesempatan karna aku saat ini ingin melanjutkan aktivitas.

Mohon maaf bila penulisan ku ini banyak terjadi kesalahan,harap dimaklumi aku tidak pernah menulis cerita seperti novel atau majalah.. ini aku tulis karna pengalaman ku sendiri dengan kata-kata ku yang aku buat apa adanya.


Kamis, 24 Mei 2012

Legenda Kanjeng Ratu Roro Kidul



Fenomena gaib Kanjeng Ratu Roro Kidul atau Ratu Pantai Selatan sangat terkenal di jagat mistik Nusantara. Beragam versi cerita sudah banyak dikemukakan. 
Sejumlah saksi yang pernah melihat sosoknya banyak dipaparkan. Tetapi siapakah sebenarnya perempuan yang ditahbiskan sebagai Penguasa Laut Selatan itu? Misteri mencoba menyusuri beberapa informasi yang terkait dengannya.

1. Legenda
Ada 2 versi cerita/legenda mengenai keberadaan Kanjeng Ratu Roro Kidul yaitu: Pertama, cerita tentang Kanjeng Ratu Roro Kidul yang berasal dari manusia, kemudian masuk ke alam gaib (jin).
Dikisahkan bahwa Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah puteri seorang raja dari isteri pertama. Suatu ketika terjadi intrik dalam kerajaan yang dipicu oleh kecemburuan isteri-isteri raja yang lebih muda. Akibatnya, Kanjeng Ratu Roro Kidul dan ibunya diserang suatu penyakit aneh (teluh/santet) dan diusir dari kerajaan. Si ibu menemui ajal, sedangkan Roro Kidul mencari kesembuhan dengan berdiam di kawasan pantai selatan. Disini, ia berjumpa dengan jin penguasa laut yang menjanjikan kesembuhan penyakitnya tetapi dengan syarat Roro Kidul harus ikut ke dalam kerajaan lautnya. Roro Kidul menyanggupinya. Selanjutnya, Kanjeng Ratu Roro Kidul diangkat menjadi ratu setelah penguasa sebelumnya meninggal.
Uniknya, asal usul daerah Roro Kidul itu juga beragam. Ada yang mengisahkan, Roro Kidul berasal dari tanah Jawa. Tetapi ada juga cerita Kanjeng Ratu Roro Kidul itu adalah kakak dari Saribu Raja yang merupakan keturunan Raja Batak. Nama asli Kanjeng Ratu Roro Kidul adalah Biding Laut.
Kedua, cerita rekaan buatan manusia. Cerita ini berkaitan dengan kisah Sultan Agung, penguasa Kerajaan Mataram. Dikisahkan, ketika Sultan Agung berkuasa, dia berharap agar rakyatnya hidup tentram dan tidak berniat melakukan pemberontakan sebagaimana pernah dialami kerajaan-kerajaan pendahulunya seperti Singosari, Majapahit, Demak, dll. Didorong untuk mencegah terjadinya pemberontakan itulah Sultan Agung mengeluarkan maklumat seputar kebesaran Kerajaan Mataram.
Sultan Agung mengklaim bahwa kekuasaannya bukan hanya meliputi tanah Jawa melainkan mencakup lautannya. Agar supaya klaimnya menjadi logis, maka Sultan Agung memaklumkan pula bahwa dia menjalin kerjasama dengan Kanjeng Ratu Roro Kidul, Penguasa Laut Selatan.
Strategi ini cukup jitu mengingat budaya dan tradisi Jawa yang kental dengan aroma mistik. Bahkan beredar pula cerita bahwa pada bulan Suro (Muharram), masyarakat tanah Jawa dilarang mengadakan pesta atau hajatan, karena di bulan itu Kanjeng Ratu Roro Kidul sedang menyelenggarakan hajatan di kerajaan lautnya. Padahal alasan sesungguhnya karena di bulan Suro itu penguasa Mataram mengadakan pesta, seperti pernikahan kerabat kerajaan.

2. Penuturan 2 orang saksi yang pernah bertemu Kanjeng Ratu Roro Kidul
Pertama, kesaksian Abdul (20 thn), warga Lomanis, Cilacap.
Suatu ketika, ia sedang bersantai di pantai pasir putih Pulau Nusakambangan. Menurutnya, dalam jarak sekitar 50 meter dari garis pantai, ia melihat Sang Ratu menaiki kereta kencana yang di iringi ratusan pengawalnya. Ia melihat gaun Sang Ratu sangat panjang yang membentang dibelakangnya.
Meski ia melihat mahkota di atas kepalanya Sang Ratu, tetapi wajahnya hanya terlihat dari samping. Penampakan yang ia saksikan sekitar jam 20.00 malam disusul dengan hilangnya kesadaran selama hampir satu minggu. Syukurlah, sejumlah Kyai berhasil menyembuhkannya.
Kedua, kesaksian Ahmad Durriati (70 thn), warga kotagede, Yogyakarta. Pengalaman pertama saat ia bersama putranya sedang mengadakan tirakat di pantai Parang Tritis. Menjelang tengah malam, suatu penampakan luar biasa ia saksikan yakni bangunan tembok setinggi sekitar 5 meter yang membentang sepanjang pantai.
Jaraknya kurang lebih 20 meter dari garis pantai. Di beberapa bagian bangunan tembok yang mirip benteng itu, ia dan putranya melihat sejumlah orang yang berada di atasnya, seperti sedang dalam posisi berjaga. Penjaga yang tegak berdiri dengan tombak ditangannya.
Pengalaman kedua terjadi saat ia sakit keras sehingga berada dalam kondisi koma. Dalam ketidaksadarannya itu, ia seolah berada dalam kerajaan Roro Kidul. Disana, ia melihat orang-orang yang sedang sibuk bekerja mendirikan tembok-tembok bangunan layaknya sedang ada pembangunan.
Uniknya, para pekerja memiliki ekspresi wajah memelas, seperti hendak meminta tolong. Mereka seperti bekerja dalam suasana keterpaksaan. Mereka bertelanjang dada dengan hanya mengenakan celana panjang lusuh. Selain itu, sejumlah pria berwajah bengis berdiri mengawasi para pekerja. Boleh jadi para pekerja itu adalah orang-orang yang ketika hidupnya kerap meminta pesugihan.
Selanjutnya, Ahmad Durriati menceritakan saat bertatap muka dengan Roro Kidul. Menurutnya, Sang Ratu duduk di atas kursi singgasana yang lantainya berkedudukan lebih tinggi dari tempat ia duduk. Sejumlah dayang-dayang berdiri sambil membawa kipas.
Kemudian Sang Ratu memberinya sebuah nasehat yang bermakna tauhid.  ‘’Mintalah segala sesuatu kepada Tuhanmu. Jangan meminta sesuatu apapun kepada saya, karena saya tidak berhak memberikannya. Apabila ada manusia yang meminta sesuatu kepada saya. Sebenarnya tidak pernah sekalipun saya memberikannya. Kalau ada manusia yang memuja saya dan meminta sesuatu kepada saya, maka yang memberikan permintaannya adalah dari kalangan warga kerajaan yang memang hendak menyesatkan manusia.’’ Demikian kata Kanjeng Ratu Roro kidul.
Sebuh nasehat tauhid yang boleh jadi meruntuhkan semua anggapan bahwa Kanjeng Ratu Roro Kidul sering mengabulkan permintaan manusia yang minta berkah dan pesugihan darinya.
Menurut Ahmad Durriati, apa yang ia alami dalam kondisi koma itu seperti sebuah pemberitahuan bahwa pemujaan dan minta pesugihan hanya sebuah kesia-siaan yang hanya menjatuhkan diri dalam kemusyrikan.
Kalapun ada manusia yang berhasil memperoleh harta atau kedudukan dari hasil pesugihan, itu tidak lebih dari pemberian syetan yang memang bertugas menyesatkan manusia.
Dalam akhir perjumpaannya, Ahmad Durriati diberi pilihan antara kembali ke keluarganya atau tetap tinggal di kerajaan Laut Selatan. Ahmad memilih yang pertama. Kemudian Sang Ratu mengangkat tongkat dan memukul pundaknya. Seketika ia tersentak dan sadar dari kondisi koma yang ia alami selama beberapa hari.
Dari uraian di atas, dapat diambil kesimpulan: pertama, sosok Kanjeng Ratu Roro Kidul tidak pernah ada. Ia hanya dongeng yang beredar secara turun temurun. Sebuah cerita yang tentunya dihasilkan begawan sastra yang sangat mumpuni dalam mengolah bahan cerita.
Kedua, Sosok Kanjeng Ratu Roro Kidul benar-benar ada. Ia bisa saja berasal dari jenis manusia yang menjadi siluman atau termasuk bangsa jin. Asal daerah pun bisa dari tanah Jawa atau dari luar Jawa.

Berdasarkan pengalaman Ahmad Durriati, kemungkinan Kanjeng Ratu Roro Kidul tergolong jin Muslim yang meyakini adanya Tuhan Yang Maha Esa. Wallahu a'lam!!